HAMBATAN DALAM MELAKUKAN PROSES KONSELING
D
I
S
U
S
U
N
OLEH:
NAMA : RYA PURWA NINGSIH
NPM: 1201 0889
PRODY : BK IV C
MK :praktik lab bk
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR........................................................................................................ i
DAFTAR
ISI...................................................................................................................... ii
BAB
I PENDAHULUAN.................................................................................................. 1
BAB
II PEMBAHASAN................................................................................................... 2
A.
Proses konseling ..................................................................................................... 2
1.
Struktur ............................................................................................................. 2
2.
Inisiatif ............................................................................................................. 5
i.
Pemberian inisiasi
dalam memfasilitasi tindakan konseli...................... 6
ii.
Kondisi inti dalam pengambilan tindakan............................................. 6
iii.
Personalisasi tujuan................................................................................ 7
iv.
Mengoperasionalkan tujuan................................................................... 9
v.
Mengkomunikasikan tujuan operasional................................................ 9
vi.
Penetapan tujuan................................................................................... 9
vii.
Pengembangan program........................................................................ 10
viii.
Pengembangan jadwal........................................................................... 11
BAB
III PENUTUP............................................................................................................ 15
A.
Kesimpulan ............................................................................................................. 15
DAFTAR
PUSTAKA......................................................................................................... 16
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG
Dalam setiap studi tentang ilmu
kependidikan,persoalan yang berkenaan dengan guru sering kali mengalami
kesulitan dalam proses pemecahan masalah yang dilakukan kepada siswanya , Oleh
karena itu, perlu diperhatikan secara sungguh-sungguh bagaimana memberikan pelayanan yang baik pada siswa walapun dalam
keadaan yang tidak terfasilitasi sekalipun ,Sehingga dapat memperoleh hasil
yang maksimal dalam proses konseling yang dilakukan .
B.
Rumusan
masalah
1. Mengapa struktur mempengaruhi proses
konseling ?
2. Mengapa inisiatif mempengaruhi
proses konseling ?
C.
Tujuan
1. Mengetahui petingnya struktur dalam
proses konseling.
2. Mengetahui pentingnya inisiatif
dalam proses konseling.
BAB
II
PEMBAHASAN
A.
PROSES KONSELING
Prsoses konseling adalah suatu
kegiatan yang dilakukan dalam usaha menyelesaikan masalah ,
Biasanya dilakukan oleh dua orang
atau lebih yang didalamnya terdapat :
1. Konselor
2. Konseli
Ada
beberapa factor-faktor yang biasanya mempengaruhi proses konseling , diantaranya :
1. STRUKTUR
Struktur merupakan pemahaman bersama antara konselor dan
konseli mengenai karakteristik, kondisi, prosedur dan parameter konseling.
Struktur membantu untuk memperjelas hubungan antara konselor dan konseli,
memberinya arah, melindungi hak masing-masing, peran dan obligasi baik dari
konselor maupun konseli dan menjamin konseling sukses. Kurangnya pemberian
struktur ini menimbulkan kecemasan dalam diri konseli dan mungkin menyebabkan
kegagalan konseling.
Adapun contoh struktur organisasi pelayanan BK sebagai
berikut:
Contoh gambaran /
mekanisme kerja BK, sebagai berikut :
Contoh Mekanisme kerja tentang Penangan siswa yang
bermasalah:
2.
INISIATIF
Inisiatif dapat dilihat sebagai motivasi untuk berubah.
Sebagian besar konseli memang dating untuk konseling atas kemauaannya sendiri.
Namun, dalam konseling terdapat juga konseli yang enggan untuk konseling atas
kemauan sendiri. Kemungkinannya sangat berbeda untuk masing-masing orang
sehingga menimbulkan anggapan bahwa seseorang yang enggan konseling walaupun ia
sangat butuh bantuan.
Maka dari itu konselor dituntut untuk inisiatif terhadap
masalah-masalah yang dihadapi siswa , diantaranya :
i.Pemberian inisiasi dalam
memfasilitasi tindakan konseli
Penginisiasian merupakan tahap kulminasi dari pemberian bantuan. Pemberian
inisiasi menekankan pada memfasilitasi usaha konseli untuk bertindak dalam
mencapai tujuannya. Dengan kata lain, tindakan konseli untuk mengubah atau
memperoleh keberfungsian mereka. Tindakan ini didasarkan atas pemahaman mereka
yang telah terpersonalisasi terhadap tujuan mereka. Hal ini difasilitasi dari
inisiatif dari konselor.
Proses inisiasi (penginisiasian) mencakup penetapan tujuan, pengembangan
program, perancangan jadwal serta reinforcement dan mengindividualisasian
langkah-langkah. Penetapan tujuan menekankan pada pengoperasian suatu tujuan.
Pengembangan program menekankan pada langkah-langkah yang dibutuhkan untuk
mencapai suatu tujuan. Perencanaan jadwal menekankan pada pelengkapan peneguhan
untuk melangkah. Pengindividualisasian menekankan pada memastikan bahwa
langkah-langkah tersebut berhubungan dengan bingkai referensi konseli.
ii. Kondisi
inti dalam pengambilan tindakan
Walaupun penginisiasian secara luas merupakan seri tentang kegiatan mekanis
yang didasarkan atas tujuan yang terpersonalisasi, konselor harus terus menerus
berfungsi secara deferensial terhadap kebutuhan-kebutuhan konseli. Konselor
secara terus menerus menekankan pada pemberian respon secara efektif. Setelah
menjadi tambahan dalam pemberian pemahaman terhadap tujuan, konselor kembali
lagi pada tingkatan yang sesuai dalam responding. Begitu pula dengan konselor
yang menekankan pada pengindividualisasikan langkah-langkah dalam pencapaian
tujuan. Dalam prakteknya, hal ini berarti bahwa konselor selalu melakukan
pemeriksaan kembali terhadap konseli dalam pengembangan dan pelaksanaan
program-progam.
Konselor perlu mengkomunikasikan penghargaan yang kondisional bagi konseli.
Konselor memiliki gambaran yang jelas tentang kelebihan dan kelemahan konseli,
serta meneguhkan mereka dengan tujuan untuk membantu mereka mengembangkan dan
melaksanakan program-program secara efektif. Keseluruhan dalam hal ini
dikondisikan dalam prilaku yang sangat murni (genuine). Karena baik konselor
maupun konseli saling mengetahui dengan baik satu sama lain, maka mereka dapat
berhubungan dengan bebas dan terbuka sesuka hati mereka. Akibatnya, ada suatu
peningkatan yang ditekankan terhadap kekhususan dan ke konkritan dalam
pengembangan dan pelaksanaan program.
iii.
Personalisasi tujuan
a. Penetapan tujuan
Tugas yang paling kritis dalam penginisiasian adalah penetapan tujuan. Jika
tujuan dan operasionalnya telah ditetapkan, maka arah pemberian bantuan menjadi
jelas. Dalam memetapkan tujuan, digunakan pula 5 kata tanya dasar dengan cara
yang kreatif (What, Who, Why, When, Where, How). 5 WH tersebut digambarkan
dalam lingkup pengoperasian tujuan yang unsure-unsurnya terdiri atas: komponen,
fungsi, proses, kondisi dan standar. Pengoperasian ini akan menekankan seluruh
unsure yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan.
b. Penetapan komponen-komponen
Unsur pertama dari tujuan adalah komponen. Komponen menggambarkan siapa (Who)
dan apa saja (What) yang terlibat dalam suatu tujuan. Komponen-komponen tersebut
bisa saja mencakup unsur-unsur seperti materi pelajaran atau isi, begitu pula
guru atau siswa.
c. Penetapan fungsi-fungsi
Unsur kedua dalam penetapan tujuan adalah fungsi. Fungsi menggambarkan apa yang
dilakukan seseorang atau sesuatu. Fungsi adalah kata kerja operasional yang
menggambarkan suatu aktifitas. Dalam lingkup pembelajaran, fungsi dapat
menekankan pada aktifitas pembelajaran tertentu, misalnya: menerina,
memperoleh, mengaplikasikan dan mentrasfer materi pelajaran.
d. Penetapan proses-proses
Unsur ketiga dalam penetapan tujuan adalah proses. Proses dideskrifsikan
sebagai alasan (Why) dan metode (How) bagi komponen-komponen untuk mengerjakan
tugasnya. Proses berupa kalimat keterangan yang memodifikasi fungsi atau
aktivitas. Dalam lingkup pembelajaran konseli mungkin perlu untuk “belajar –
bagaimana-cara-belajar “ dengan tujuan melakukan cara secara efektif.
e. Penetapan kondisi-kondisi
Unsur keempat dalam penetapan tujuan adalah kondisi. Kondisi menggambarkan
dimana (Where) dan kapan (When) fungsi-fungsi terjadi. Kondisi juga merupakan
kalimat keterangan yang mendeskripsikan fungsi. Proses belajar konseli dapat
mengambil tempatdiruangan kelas selama jam sekolah. Hal tersebut penting untuk
mengkhususkan kondisi dimana fungsi terjadi, untuk memastikan kelengkapan
performance.
f. Penetapan standar-standar
Unsur kelima dalam penetapan tujuan adalah standar. Standar menggambarkan
sebaik apa fungsi ditampilkan. Standar juga merupakan frase keterangan yang
mendeskripsikan fungsi-fungsi. Keterampilan konseli dalam belajar mungkin akan
mensyaratkan kemampuan untuk mengeksplorasi, memahami dan mengambil tindakan
atas tiap keterampilan untuk dipelajari. Ketrampilan konseli dalam bekerja
mungkin mensyaratkan kemapuan untuk menangani masalah atau membuat keputusan
secara terencana. Hal ini penting untuk menjadi sangat spesifik dalam
menentukan criteria keefektifan. Jika tidak, konseli tidak akan tahu dimana
saat-saat mereka telah mencapai tujuan yang mereka inginkan.
Iv.
Mengoperasionalkan tujuan
Melalui pemberian deskripsi operasional terhadap tujuan, konseli akan
memiliki gambaran yang jelas tentang tujuannya. Hal ini mendorong konseli untuk
mengembangkan dan melaksanakan program-program demi pencapaian tujuan mereka.
V.
Mengkomunikasikan tujuan operasional
Tujuan operasional dikomunikasikan pada konseli dengan cara menekankan pada
ketentuan-ketentuan yang dapat diamati dan diukur. Ketentuan-ketentuan ini
mengacu pada standar performansi. Biasanya hal ini dimaksudkan untuk
menggambarkan tujuan dalam hubungannya dengan lama waktu yang digunakan konseli
dalam melakukan suatu perilaku.
Vi.
Penetapan tujuan
a. Pengembangan program
Jelas tidak cukup kalau kita hanya menetapkan tujuan saja. Untuk mencapai
tujuan, kita perlu mengembangkan program. Program merupakan prosedur
langkah-demi-langkah yang mempermudah pencapaian tujuan. Dalam pemberian
penjelasan tentang tujuan, program diperoleh dari pengoperasian. Setiap langkah
dalam program harus membawa pada penyelesaian operasi-operasi yang terlibat
dalam suatu tujuan.
Kebanyakan program dirangkai oleh suatu kesatuan, artinya, setiap langkah
bergantung pada pelaksanaan langkah sebelumnya. Karena itu, perlu ditentukan
apa saja langkah yang harus dilakukan sebagai persiapan langkah selanjutnya dan
pada akhirnya, pengoperasian tujuan. Dalam konteks ini, program pengambilan
tindakan terdiri atas, tujuan operasional, langkah pertama yang mendasar, dan
langkah perantara pencapaian tujuan. Tujuan adalah yang ingin dan perlu dicapai
konseli. Langkah pertama merupakan langkah yang mendasar dimata konseli memulai
untuk melangkah. Langkah perantara merupakan langkah-langkah yang secara
langsung membawa pada pencapaian tujuan. Semua langkah tersebut membawa konseli
dari tempat ia berada ke tempat yang ia inginkan
b. Pengembangan langkah awal
Langkah pertama adalah langkah paling dasar yang harus diambil konseli. Langkah
tersebut harus menjadi bahan bangunan paling fundamental dalam suatu program.
Dengan demikian langkah selanjutnya dapat diambil.
c. Pengembangan langkah perantara
Langkah perantara menjembatani jurang pemisah antara langkah pertama dengan
tujuan. Langkah perantara yang pertama dapat diperkirakan berada pada setengah
jalan antara langkah pertama dengan tujuan.
Vii.
Pengembangan program
a. Pengembangan jadwal
Proses penginisiasian berlanjut seiring konselor mengembangkan penjadwalan
waktu untuk pencapaian langkah dan tujuan. Jadwal disajikan untuk memfokuskan
program yang akan dilakukan. Dengan adanya jadwal, jurang waktu yang mungkin
ditinggalkan oleh perhitungan waktu akhir-terbuka(open ended time) akan lebih
rapat.
Penekanan utama dalam proses penjadwalan adalah pada pengembangan waktu mulai
dan waktu selesai. Hal tersebut menjelaskan pada konseli dan konselor kapan
suatu hal harus dilakukan atau diselesaikan. Waktu mulai dan waktu selesai juga
dapat ditentukan bagi langkah-langkah individual yang akan diambil seperti
halnya pada keseluruhan program. Tidak ada program yang lengkap tanpa waktu
dimulai dan waktu diselesaikannya program tersebut.
b. Menetapkan waktu penyelesaian
Langkah pertama yang diambil dalam pengembangan jadwal adalah menentapkan
secara khusus kelengkapan waktu dan tanggal. Misalnya, konseli dapat menentukan
waktu penyelesaian yang sama pada langkah-langkah atau tujuan yang akan diraih
dalam berbagai aspek kehidupan, pembelajaran dan pekerjaan.
c. Menetapkan waktu pemulaian
Langkah kedua dalam pengembangan jadwal adalah menetapkan waktu dan tanggal
pemulaian secara spesifik.
d. Mengawasi ketetapan waktu
Konselor dapat menetapkan waktu mulai dan selesai bagi tiap langkah sementara.
Tujuan utama dari penetapan jadwal adalah untuk mengawasi ketepatan waktu atas
performansi konseli terhadap pengerjaan langkah-langkah dalam program. Jadwal
yang detail membuat konselor dan konseli dapat mengawasi pelaksanaan langkah-langkah
dalam pencapaian tujuan.
Viii.
Pengembangan jadwal
a. Pengembangan peneguhan
Langkah selanjutnya dalam penginisiasian adalah pengembangan peneguhan yang
akan mendorong konseli untuk mengambil langkah-langkah yang dibutuhkan.
Peneguhan menjadi sangat efektif saat diaplikasikan dengan sesegera mungkin
terhadap pelaksanaan langkah-langkah yang diambil.
Pelaksanaan langkah dalam pencapaian tujuan dan penanggulangan kekurangan diri
sering kali berakibat terlalu jauh pada konseli. Banyak jenis peneguhan yang
harus diperkenalkan pada konseli secepat mungkin. Lebih jelasnya,
peneguhan-peneguhan ini harus datang dari bingkai referensi konseli.Banyak
program pemberian bantuan yang gagal karena ketidakmampuan program tersebut
untuk memberikan peneguhan yang sesuai. Perhatian apapun – bahkanyang negatif –
dapat lebih meneguhkan dibanding proses peneguhan dalam suatu program. Empati
merupakan sumber dari seluruh pengetahuan tentang peneguhan yang kuat bagi
konseli.
1. Peneguhan positif
Peneguhan positif atau melalui reward adalah jenis peneguhan yang
palingpotensial. Orang cenderung dapat bekerja keras demi sesuatu yang
benar-benar berarti baginya. Hal ini berarti konselor harus bekerja dengan
tekun untuk mengembangkan peneguhan positif terhadap bingkai referensi konseli.
Kemudian konseli juga harus bekerja dengan tekun untuk menerima peneguhan
tersebut. Peneguhan dapat bervariasi seiring dengan meningkatnya cita rasa
alami manusia dengan sendirinya.
2. Peneguhan negative
Sebisa mungkin konselor harus mencegah peneguhan negatif. Dalam konteks ini
penerapan atas peneguhan negatif dapat menstimulasi reaksi lainnya, misalnya
reaksi penolakan terhadap orang yang memberikan hukuman. Untuk mencegah agar
tidak berhadapan dengan reaksi semacam ini, konselor harus berusaha untuk
menetapkan peneguhan negatif tersebut sebagai ketiadaan reward.
Konselor perlu untuk meneguhkan konseli secara positif dan membuat perilaku
konseli menjadi terarah pada tujuan, serta mencegah perilaku tidak bertujuan
dan peneguhan negatif pada konseli. Kebanyakan program terdiri atas
langkah-langkah yang terangkai dalam satu kesatuan, dimana tiap langkah
bergantung pada pelaksanaan langkah sebelumnya. Beberapa konseli tidak dapat
melaksanakan langkah tersebut segera setelah mereka merancangnya. Langkah-langkah
tersebut memerlukan pengindividualisasian program terhadap gaya belajar
masing-masing. Jenis individualisasi program, berupa rangkaian langkah-langkah
dari yang sederhana sampai yang kompleks, dari yang konkrit sampai yang
abstrak, dari yang dekat sampai yang jauh. Seringkali langkah langkah ini
berbeda dengan langkah-langkah yang terangkai dalam suatu kesatuan. Rangkaian
langkah-langkah dapat berupa langkah-langkah sederhana ke kompleks,
langkah-langkah konkrit ke abstrak, dan langkah-langkah jangka pendek ke jangka
panjang.
Pengembangan inisiatif merupakan puncak pelaksanaan proses pemberian bantuan.
Dengan memberikan tujuan yang terpersonalisasi dalam proses initiating,
mendorong konselor dan konseli untuk menetapkan tujuan dan mengembangkan
program pencapaian tujuan. Proses pemberian bantuan adalah suatu proses yang
berkaitan dengan menangani masalah konseli dan membantu meraih tujuannya. Pada
tingkatan tertinggi dalam pemberian bantuan, proses Responding dan initiating
berhubungan secara integral. Tidak ada perwujudan dari pemahaman bila tidak ada
tindakan, tidak aka nada pula suatu tindakan tanpa adanya pemahaman.
3. SETTING (TATANAN) FISIK
Konseling dapat terjadi di mana saja, tetapi tatanan fisik
yang nyaman, dapat meningkatkan proses menjadi lebih baik. Tatanan fisik ini
perlu diperhatikan, karena dapat membantu menciptakan iklim psikologis yang
kondusif untuk konseling. Harus diusahakan tatanan yang membantu konseli agar
mudah membuka diri kepada konselor karena tidak merasa terancam disitu.
4.
KUALITAS KONSELI
Karakteristik konseli yang dianggap akan mempermudah
konseling adalah konseli yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut. Yakni Young, Atractive, Verbal, Intelligent,
Sussessful (YAVIS). Sedangkan konseli yang sulit untuk diajak konseling
cirinya yakni HOUND (Homely, Old,
Unintellegent, Nonverbal, Disadvantaged). Selain factor tersebut, factor
yang memegang peranan penting adalah kesiapan konseli untuk berubah. Karena
dengan hal tersenut akan memudahkan jalannya konseling.
5.
KUALITAS KONSELOR
Konselor yang berkualitas akan
mendukung berhasilnya konseling. Ada beberapa karakteristik yang harus dipenuhi
konselor agar dapat membantu terjadinya perubahan dalam diri konseli yang
dihadapinya. Antara lain yakni konselor harus memiliki kejujuran, self-awarenes, kongruensi, kemampuan
untuk berkomunikasi dan pengetahuan
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Sangat erat kaitannya struktur
organisasi pelayanan Bk dan inisiatif guru BK atau konselor dalam proses
pelayanan BK disekolah , karena apada dasar nya sesuatu yang terstruktur jika
di jalankan berdasarkan struktur nya kemungkinan besar akan menghasilkan hasil
yang baik . dengan begitu layak nya kita sebagi konselor mengetahui struktur BK
demi sukses nya pelayanan yang kita berikan kepada siswa . Selain itu pula
seorang guru BK harus lah inisiatif dalam pengambilan keputusan , program-
program tambahan , dan yang lainnya guna pencapaian tujuan yang maksimal.
DAFTAR
PUSTAKA
Carkhuff,Robert R.(1985)The Art of
Helping.America:Bernice R.Carkhuff.Publisher