Selasa, 15 April 2014

puisi -kasih


Kasih

Kasihhhhhh........
Kini aku mrasakan cinta mu ,,,,
Sungguh benar terssa Cinta Mu ,,,


Kasih ....
Kini akku menangis karna mu ...
Menangis bahagia ...

Kasih ..
Hampir ku gapai mimpi ku ...
Ini semua karena mu ...

Kasih...
Kaulah yg ku mau ..
Kaulah yang di titip kan Tuhan buat ku..
Buat aku bertahan dan terus bertahan ..

Kasihmu . cintamu . menembus egoku  ...kini mimpiku akan ku raih ..
Tak kan ku lepas jika smua jadii kenyataan..
Kau .... aku ... akan bersama selamanya ..
Arungi mimpi dan dunia bersama ..

MAKALAH -HAMBATAN DALAM MELAKUKAN PROSES KONSELING


HAMBATAN DALAM MELAKUKAN PROSES KONSELING

D
I
S
U
S
U
N 
OLEH:



NAMA : RYA PURWA NINGSIH
NPM: 1201 0889
PRODY : BK IV C
MK :praktik lab bk




 


DAFTAR ISI



KATA PENGANTAR........................................................................................................         i
DAFTAR ISI......................................................................................................................        ii
BAB I PENDAHULUAN..................................................................................................        1
BAB II PEMBAHASAN...................................................................................................        2
A.    Proses konseling .....................................................................................................        2
1.      Struktur .............................................................................................................        2
2.      Inisiatif .............................................................................................................        5
i.                    Pemberian inisiasi dalam memfasilitasi tindakan konseli......................        6
ii.                  Kondisi inti dalam pengambilan tindakan.............................................        6
iii.                Personalisasi tujuan................................................................................        7
iv.                Mengoperasionalkan tujuan...................................................................        9
v.                  Mengkomunikasikan tujuan operasional................................................        9
vi.                Penetapan tujuan...................................................................................        9
vii.              Pengembangan program........................................................................      10
viii.            Pengembangan jadwal...........................................................................      11

BAB III PENUTUP............................................................................................................      15
A.    Kesimpulan .............................................................................................................      15
DAFTAR PUSTAKA.........................................................................................................      16




BAB I
PENDAHULUAN

A.    LATAR BELAKANG
Dalam setiap studi tentang ilmu kependidikan,persoalan yang berkenaan dengan guru sering kali mengalami kesulitan dalam proses pemecahan masalah yang dilakukan kepada siswanya , Oleh karena itu, perlu diperhatikan secara sungguh-sungguh bagaimana memberikan  pelayanan yang baik pada siswa walapun dalam keadaan yang tidak terfasilitasi sekalipun ,Sehingga dapat memperoleh hasil yang maksimal dalam proses konseling yang dilakukan .
B.     Rumusan masalah
1.      Mengapa struktur mempengaruhi proses konseling ?
2.      Mengapa inisiatif mempengaruhi proses konseling ?
C.     Tujuan
1.      Mengetahui petingnya struktur dalam proses konseling.
2.      Mengetahui pentingnya inisiatif dalam proses konseling.






BAB II
PEMBAHASAN

A.     PROSES KONSELING
Prsoses konseling adalah suatu kegiatan yang dilakukan dalam usaha menyelesaikan masalah ,
Biasanya dilakukan oleh dua orang atau lebih yang didalamnya terdapat :
1.      Konselor
2.      Konseli
Ada beberapa factor-faktor yang biasanya mempengaruhi   proses konseling , diantaranya :
1.      STRUKTUR
Struktur merupakan pemahaman bersama antara konselor dan konseli mengenai karakteristik, kondisi, prosedur dan parameter konseling. Struktur membantu untuk memperjelas hubungan antara konselor dan konseli, memberinya arah, melindungi hak masing-masing, peran dan obligasi baik dari konselor maupun konseli dan menjamin konseling sukses. Kurangnya pemberian struktur ini menimbulkan kecemasan dalam diri konseli dan mungkin menyebabkan kegagalan konseling.





Adapun contoh struktur organisasi pelayanan BK sebagai berikut:

Struktur Organisasi Pelayanan BK1




Contoh  gambaran / mekanisme kerja BK, sebagai berikut :
Mekanisme kerja BK






Contoh Mekanisme kerja tentang Penangan siswa yang bermasalah:
Mekanisme penanganan siswa bermasalah.21


2.      INISIATIF
Inisiatif dapat dilihat sebagai motivasi untuk berubah. Sebagian besar konseli memang dating untuk konseling atas kemauaannya sendiri. Namun, dalam konseling terdapat juga konseli yang enggan untuk konseling atas kemauan sendiri. Kemungkinannya sangat berbeda untuk masing-masing orang sehingga menimbulkan anggapan bahwa seseorang yang enggan konseling walaupun ia sangat butuh bantuan.
Maka dari itu konselor dituntut untuk inisiatif terhadap masalah-masalah yang dihadapi siswa , diantaranya :

i.Pemberian inisiasi dalam memfasilitasi tindakan konseli
Penginisiasian merupakan tahap kulminasi dari pemberian bantuan. Pemberian inisiasi menekankan pada memfasilitasi usaha konseli untuk bertindak dalam mencapai tujuannya. Dengan kata lain, tindakan konseli untuk mengubah atau memperoleh keberfungsian mereka. Tindakan ini didasarkan atas pemahaman mereka yang telah terpersonalisasi terhadap tujuan mereka. Hal ini difasilitasi dari inisiatif dari konselor.
Proses inisiasi (penginisiasian) mencakup penetapan tujuan, pengembangan program, perancangan jadwal serta reinforcement dan mengindividualisasian langkah-langkah. Penetapan tujuan menekankan pada pengoperasian suatu tujuan. Pengembangan program menekankan pada langkah-langkah yang dibutuhkan untuk mencapai suatu tujuan. Perencanaan jadwal menekankan pada pelengkapan peneguhan untuk melangkah. Pengindividualisasian menekankan pada memastikan bahwa langkah-langkah tersebut berhubungan dengan bingkai referensi konseli.
ii. Kondisi inti dalam pengambilan tindakan
Walaupun penginisiasian secara luas merupakan seri tentang kegiatan mekanis yang didasarkan atas tujuan yang terpersonalisasi, konselor harus terus menerus berfungsi secara deferensial terhadap kebutuhan-kebutuhan konseli. Konselor secara terus menerus menekankan pada pemberian respon secara efektif. Setelah menjadi tambahan dalam pemberian pemahaman terhadap tujuan, konselor kembali lagi pada tingkatan yang sesuai dalam responding. Begitu pula dengan konselor yang menekankan pada pengindividualisasikan langkah-langkah dalam pencapaian tujuan. Dalam prakteknya, hal ini berarti bahwa konselor selalu melakukan pemeriksaan kembali terhadap konseli dalam pengembangan dan pelaksanaan program-progam.
Konselor perlu mengkomunikasikan penghargaan yang kondisional bagi konseli. Konselor memiliki gambaran yang jelas tentang kelebihan dan kelemahan konseli, serta meneguhkan mereka dengan tujuan untuk membantu mereka mengembangkan dan melaksanakan program-program secara efektif. Keseluruhan dalam hal ini dikondisikan dalam prilaku yang sangat murni (genuine). Karena baik konselor maupun konseli saling mengetahui dengan baik satu sama lain, maka mereka dapat berhubungan dengan bebas dan terbuka sesuka hati mereka. Akibatnya, ada suatu peningkatan yang ditekankan terhadap kekhususan dan ke konkritan dalam pengembangan dan pelaksanaan program.
iii. Personalisasi tujuan
a. Penetapan tujuan
Tugas yang paling kritis dalam penginisiasian adalah penetapan tujuan. Jika tujuan dan operasionalnya telah ditetapkan, maka arah pemberian bantuan menjadi jelas. Dalam memetapkan tujuan, digunakan pula 5 kata tanya dasar dengan cara yang kreatif (What, Who, Why, When, Where, How). 5 WH tersebut digambarkan dalam lingkup pengoperasian tujuan yang unsure-unsurnya terdiri atas: komponen, fungsi, proses, kondisi dan standar. Pengoperasian ini akan menekankan seluruh unsure yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan.
b. Penetapan komponen-komponen
Unsur pertama dari tujuan adalah komponen. Komponen menggambarkan siapa (Who) dan apa saja (What) yang terlibat dalam suatu tujuan. Komponen-komponen tersebut bisa saja mencakup unsur-unsur seperti materi pelajaran atau isi, begitu pula guru atau siswa.
c. Penetapan fungsi-fungsi
Unsur kedua dalam penetapan tujuan adalah fungsi. Fungsi menggambarkan apa yang dilakukan seseorang atau sesuatu. Fungsi adalah kata kerja operasional yang menggambarkan suatu aktifitas. Dalam lingkup pembelajaran, fungsi dapat menekankan pada aktifitas pembelajaran tertentu, misalnya: menerina, memperoleh, mengaplikasikan dan mentrasfer materi pelajaran.
d. Penetapan proses-proses
Unsur ketiga dalam penetapan tujuan adalah proses. Proses dideskrifsikan sebagai alasan (Why) dan metode (How) bagi komponen-komponen untuk mengerjakan tugasnya. Proses berupa kalimat keterangan yang memodifikasi fungsi atau aktivitas. Dalam lingkup pembelajaran konseli mungkin perlu untuk “belajar – bagaimana-cara-belajar “ dengan tujuan melakukan cara secara efektif.
e. Penetapan kondisi-kondisi
Unsur keempat dalam penetapan tujuan adalah kondisi. Kondisi menggambarkan dimana (Where) dan kapan (When) fungsi-fungsi terjadi. Kondisi juga merupakan kalimat keterangan yang mendeskripsikan fungsi. Proses belajar konseli dapat mengambil tempatdiruangan kelas selama jam sekolah. Hal tersebut penting untuk mengkhususkan kondisi dimana fungsi terjadi, untuk memastikan kelengkapan performance.
f. Penetapan standar-standar
Unsur kelima dalam penetapan tujuan adalah standar. Standar menggambarkan sebaik apa fungsi ditampilkan. Standar juga merupakan frase keterangan yang mendeskripsikan fungsi-fungsi. Keterampilan konseli dalam belajar mungkin akan mensyaratkan kemampuan untuk mengeksplorasi, memahami dan mengambil tindakan atas tiap keterampilan untuk dipelajari. Ketrampilan konseli dalam bekerja mungkin mensyaratkan kemapuan untuk menangani masalah atau membuat keputusan secara terencana. Hal ini penting untuk menjadi sangat spesifik dalam menentukan criteria keefektifan. Jika tidak, konseli tidak akan tahu dimana saat-saat mereka telah mencapai tujuan yang mereka inginkan.
Iv. Mengoperasionalkan tujuan
Melalui pemberian deskripsi operasional terhadap tujuan, konseli akan memiliki gambaran yang jelas tentang tujuannya. Hal ini mendorong konseli untuk mengembangkan dan melaksanakan program-program demi pencapaian tujuan mereka.
V. Mengkomunikasikan tujuan operasional
Tujuan operasional dikomunikasikan pada konseli dengan cara menekankan pada ketentuan-ketentuan yang dapat diamati dan diukur. Ketentuan-ketentuan ini mengacu pada standar performansi. Biasanya hal ini dimaksudkan untuk menggambarkan tujuan dalam hubungannya dengan lama waktu yang digunakan konseli dalam melakukan suatu perilaku.
Vi. Penetapan tujuan
a. Pengembangan program
Jelas tidak cukup kalau kita hanya menetapkan tujuan saja. Untuk mencapai tujuan, kita perlu mengembangkan program. Program merupakan prosedur langkah-demi-langkah yang mempermudah pencapaian tujuan. Dalam pemberian penjelasan tentang tujuan, program diperoleh dari pengoperasian. Setiap langkah dalam program harus membawa pada penyelesaian operasi-operasi yang terlibat dalam suatu tujuan.
Kebanyakan program dirangkai oleh suatu kesatuan, artinya, setiap langkah bergantung pada pelaksanaan langkah sebelumnya. Karena itu, perlu ditentukan apa saja langkah yang harus dilakukan sebagai persiapan langkah selanjutnya dan pada akhirnya, pengoperasian tujuan. Dalam konteks ini, program pengambilan tindakan terdiri atas, tujuan operasional, langkah pertama yang mendasar, dan langkah perantara pencapaian tujuan. Tujuan adalah yang ingin dan perlu dicapai konseli. Langkah pertama merupakan langkah yang mendasar dimata konseli memulai untuk melangkah. Langkah perantara merupakan langkah-langkah yang secara langsung membawa pada pencapaian tujuan. Semua langkah tersebut membawa konseli dari tempat ia berada ke tempat yang ia inginkan
b. Pengembangan langkah awal
Langkah pertama adalah langkah paling dasar yang harus diambil konseli. Langkah tersebut harus menjadi bahan bangunan paling fundamental dalam suatu program. Dengan demikian langkah selanjutnya dapat diambil.
c. Pengembangan langkah perantara
Langkah perantara menjembatani jurang pemisah antara langkah pertama dengan tujuan. Langkah perantara yang pertama dapat diperkirakan berada pada setengah jalan antara langkah pertama dengan tujuan.
Vii. Pengembangan program
a. Pengembangan jadwal
Proses penginisiasian berlanjut seiring konselor mengembangkan penjadwalan waktu untuk pencapaian langkah dan tujuan. Jadwal disajikan untuk memfokuskan program yang akan dilakukan. Dengan adanya jadwal, jurang waktu yang mungkin ditinggalkan oleh perhitungan waktu akhir-terbuka(open ended time) akan lebih rapat.
Penekanan utama dalam proses penjadwalan adalah pada pengembangan waktu mulai dan waktu selesai. Hal tersebut menjelaskan pada konseli dan konselor kapan suatu hal harus dilakukan atau diselesaikan. Waktu mulai dan waktu selesai juga dapat ditentukan bagi langkah-langkah individual yang akan diambil seperti halnya pada keseluruhan program. Tidak ada program yang lengkap tanpa waktu dimulai dan waktu diselesaikannya program tersebut.
b. Menetapkan waktu penyelesaian
Langkah pertama yang diambil dalam pengembangan jadwal adalah menentapkan secara khusus kelengkapan waktu dan tanggal. Misalnya, konseli dapat menentukan waktu penyelesaian yang sama pada langkah-langkah atau tujuan yang akan diraih dalam berbagai aspek kehidupan, pembelajaran dan pekerjaan.
c. Menetapkan waktu pemulaian
Langkah kedua dalam pengembangan jadwal adalah menetapkan waktu dan tanggal pemulaian secara spesifik.
d. Mengawasi ketetapan waktu
Konselor dapat menetapkan waktu mulai dan selesai bagi tiap langkah sementara. Tujuan utama dari penetapan jadwal adalah untuk mengawasi ketepatan waktu atas performansi konseli terhadap pengerjaan langkah-langkah dalam program. Jadwal yang detail membuat konselor dan konseli dapat mengawasi pelaksanaan langkah-langkah dalam pencapaian tujuan.
Viii. Pengembangan jadwal
a. Pengembangan peneguhan
Langkah selanjutnya dalam penginisiasian adalah pengembangan peneguhan yang akan mendorong konseli untuk mengambil langkah-langkah yang dibutuhkan. Peneguhan menjadi sangat efektif saat diaplikasikan dengan sesegera mungkin terhadap pelaksanaan langkah-langkah yang diambil.
Pelaksanaan langkah dalam pencapaian tujuan dan penanggulangan kekurangan diri sering kali berakibat terlalu jauh pada konseli. Banyak jenis peneguhan yang harus diperkenalkan pada konseli secepat mungkin. Lebih jelasnya, peneguhan-peneguhan ini harus datang dari bingkai referensi konseli.Banyak program pemberian bantuan yang gagal karena ketidakmampuan program tersebut untuk memberikan peneguhan yang sesuai. Perhatian apapun – bahkanyang negatif – dapat lebih meneguhkan dibanding proses peneguhan dalam suatu program. Empati merupakan sumber dari seluruh pengetahuan tentang peneguhan yang kuat bagi konseli.
1. Peneguhan positif
Peneguhan positif atau melalui reward adalah jenis peneguhan yang palingpotensial. Orang cenderung dapat bekerja keras demi sesuatu yang benar-benar berarti baginya. Hal ini berarti konselor harus bekerja dengan tekun untuk mengembangkan peneguhan positif terhadap bingkai referensi konseli. Kemudian konseli juga harus bekerja dengan tekun untuk menerima peneguhan tersebut. Peneguhan dapat bervariasi seiring dengan meningkatnya cita rasa alami manusia dengan sendirinya.
2. Peneguhan negative
Sebisa mungkin konselor harus mencegah peneguhan negatif. Dalam konteks ini penerapan atas peneguhan negatif dapat menstimulasi reaksi lainnya, misalnya reaksi penolakan terhadap orang yang memberikan hukuman. Untuk mencegah agar tidak berhadapan dengan reaksi semacam ini, konselor harus berusaha untuk menetapkan peneguhan negatif tersebut sebagai ketiadaan reward.
Konselor perlu untuk meneguhkan konseli secara positif dan membuat perilaku konseli menjadi terarah pada tujuan, serta mencegah perilaku tidak bertujuan dan peneguhan negatif pada konseli. Kebanyakan program terdiri atas langkah-langkah yang terangkai dalam satu kesatuan, dimana tiap langkah bergantung pada pelaksanaan langkah sebelumnya. Beberapa konseli tidak dapat melaksanakan langkah tersebut segera setelah mereka merancangnya. Langkah-langkah tersebut memerlukan pengindividualisasian program terhadap gaya belajar masing-masing. Jenis individualisasi program, berupa rangkaian langkah-langkah dari yang sederhana sampai yang kompleks, dari yang konkrit sampai yang abstrak, dari yang dekat sampai yang jauh. Seringkali langkah langkah ini berbeda dengan langkah-langkah yang terangkai dalam suatu kesatuan. Rangkaian langkah-langkah dapat berupa langkah-langkah sederhana ke kompleks, langkah-langkah konkrit ke abstrak, dan langkah-langkah jangka pendek ke jangka panjang.
Pengembangan inisiatif merupakan puncak pelaksanaan proses pemberian bantuan. Dengan memberikan tujuan yang terpersonalisasi dalam proses initiating, mendorong konselor dan konseli untuk menetapkan tujuan dan mengembangkan program pencapaian tujuan. Proses pemberian bantuan adalah suatu proses yang berkaitan dengan menangani masalah konseli dan membantu meraih tujuannya. Pada tingkatan tertinggi dalam pemberian bantuan, proses Responding dan initiating berhubungan secara integral. Tidak ada perwujudan dari pemahaman bila tidak ada tindakan, tidak aka nada pula suatu tindakan tanpa adanya pemahaman.
3.      SETTING (TATANAN) FISIK
Konseling dapat terjadi di mana saja, tetapi tatanan fisik yang nyaman, dapat meningkatkan proses menjadi lebih baik. Tatanan fisik ini perlu diperhatikan, karena dapat membantu menciptakan iklim psikologis yang kondusif untuk konseling. Harus diusahakan tatanan yang membantu konseli agar mudah membuka diri kepada konselor karena tidak merasa terancam disitu.

4.      KUALITAS KONSELI
Karakteristik konseli yang dianggap akan mempermudah konseling adalah konseli yang mempunyai ciri-ciri sebagai berikut. Yakni Young, Atractive, Verbal, Intelligent, Sussessful (YAVIS). Sedangkan konseli yang sulit untuk diajak konseling cirinya yakni HOUND (Homely, Old, Unintellegent, Nonverbal, Disadvantaged). Selain factor tersebut, factor yang memegang peranan penting adalah kesiapan konseli untuk berubah. Karena dengan hal tersenut akan memudahkan jalannya konseling.

5.      KUALITAS KONSELOR
Konselor yang berkualitas akan mendukung berhasilnya konseling. Ada beberapa karakteristik yang harus dipenuhi konselor agar dapat membantu terjadinya perubahan dalam diri konseli yang dihadapinya. Antara lain yakni konselor harus memiliki kejujuran, self-awarenes, kongruensi, kemampuan untuk berkomunikasi dan pengetahuan










BAB III
PENUTUP


A.    Kesimpulan
Sangat erat kaitannya struktur organisasi pelayanan Bk dan inisiatif guru BK atau konselor dalam proses pelayanan BK disekolah , karena apada dasar nya sesuatu yang terstruktur jika di jalankan berdasarkan struktur nya kemungkinan besar akan menghasilkan hasil yang baik . dengan begitu layak nya kita sebagi konselor mengetahui struktur BK demi sukses nya pelayanan yang kita berikan kepada siswa . Selain itu pula seorang guru BK harus lah inisiatif dalam pengambilan keputusan , program- program tambahan , dan yang lainnya guna pencapaian tujuan yang maksimal.



DAFTAR PUSTAKA
Carkhuff,Robert R.(1985)The Art of Helping.America:Bernice R.Carkhuff.Publisher



artikel - tentang ayah



Ayah …..

                Satu kata namun bermakna. Tidak lain sering kita dengar  yakni kata AYAH , begitu banyak cerita tentang ayah : ayah seorang pemimpin , ayah seorang imam , ayah tulang punggung keluarga , ayah sesosok laki-laki hebat . berusaha menjaga dan mencukupi keluarga .
Kenapa harus ayah ?
Sedikit cerita tentang saya , 19 tahun hidup bersama masih ada ketidak pahaman anatara ayah dan saya , saya selalu bertanya “apa sih hebatnya  Ayah?,apa sih istimewanya ayah ? “  saya hanya menuntut HAK saya , namun saya mengabaikan kewajiban saya. Ketidak pahaman saya mengenai hal ini membuat saya bungkam cerita mengenai keluarga pada waktu itu. Tapi tidak untuk saat ini. .Saya cukup mengerti walaupun saya belum terlalu memahami . itulah alasan saya mengapa saya memilih Ayah dalam pembahasan artikel saya ini .
Cerita soal ayah , pasti sudah biasa bukan ? jika teman lihat di google juga banyak  ,yang berbeda adalah penulisnya .
Ayah …. Ayah selalu ingin yang terbaik untuk anak nya , terkadang memaksa  anak mengikuti kata-kata nya  , namun itulah bentuk keperduliannya . Ayah menginginkan kelak anakya tidak menemui kesulitan-kesulitan seperti yang dia hadapi saat ini .
Ayah selalu mengalah , selalu berusaha menjadi anak-anak saat bercanda gurau bersama , Ayah menginginkan suatu saat anaknya akan seperti dia  .
Ayah selalu mengatakan anaknya yang terbaik , karena anaknya lah harapannya , ayah mengukir mimpi anaknya dari awal hingga akhir , mendo.akan anaknya dari pagi hingga petang , bahkan saat seorang anak masih dalam kandungan sekalipun  dan seorang anak tak kan pernah mengetahui hal itu.
Ayah akan menepati janjinya , yakni menjaga anaknya hingga anaknya mampu menjaga dirinya sendiri .
Ayah membantu anaknya ketika anaknya mengahadapi kesulitan sekalipun dia tidak mengetahui bagaimana cara yang baik untuk anaknya .
Ayah selalu bekerja keras berusaha dan berusaha untuk menafkahi keluarganya , memfasilitasi anaknya dan menjaga anaknya dari rasa malu .
Ayah  mengajari anaknya untuk tetap tegar , untuk sigap dan  tegas dalam mengambil keputusan walaupun ayah terkadang juga tidak mampu melakukannya .
Ayah memberi hukuman ketika anaknya salah dengan tujuan anak mengerti  betapa sayangnya ayah terhadap anaknya .


Ayah is the best… :)

Ayah akan mengutamakan kepentingan anaknya dari pada kepentingan pribadinya . mengutamakan membayarkan uang SEMESTER anaknya ,SPP anaknya , dari pada membeli baju walaupun sebenarnya dia membutuhkan baju baru .
Ayah selalu diam ketika dia merasa tidak suka , ayah selalu menyuruh ibu menegur  ketika dia benar-benar marah .
Ayah selalu katakan “ayah akan usahakan ketika anaknya meminta sesuatu untuk dipenuhi”.
Tak terungkap bila cerita tentang ayah , ayah akan merasa bangga ketika anaknya  berhasil meraih mimpinya sesuai dengan yang diajarkannya . memberi ucapan selamat dengan penuh rasa bangga . dan dia selalu katakata “ ini baru namanya anak ayah”
Ayah , dia takkan melepas anaknya,sekalipun anaknya jauh . dia akan tetap  menjaga anaknya dari kejauhan .
Ayah selalu mengatakan “ pilhanmu ada ditanganmu , ayah hanya mengarahkan “ . ayah mencoba mengajarkan kemandirian pada anaknya dengan menentukan pilihan ..

Begitu banyak cerita tentang ayah yang tak mampu terungkap lewat kata-kata .
Dan yang paling penting adalah ayah selalu ingin anaknya bahagia .
Selau ingin anaknya menjadi yang terbaik baik untuk dirinya maupun untuk orang lain .

 salam saya untuk semua pembaca ,semoga artikel diatas dapat mengingatkan kita Tentang Ayah …………………….:)
dan semoga bermanfaat ….